Para Orang Kudus dari Kongregasi SVD-SSpS

Tuhan mengganjari hambaNya yang setia dengan keselamatan kekal

Di dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, semua orang Kristen disebut kudus, sebab rahmat Ilahi mengikutsertakan mereka di dalam Kekudusan Ilahi, berkat iman akan Yesus Kristus dan dalam pembaptisan oleh Roh Kudus. Sejak abad ke-2, para martir yang mengorbankan diri demi iman kepada Yesus Kristus disebut 'Orang Kudus'. Pada abad ke-4, para pertapa, uskup dan penguasa yang saleh juga digelari orang kudus. Sejak abad ke-10, proses dalam Curia Romana diperlukan untuk dapat memberikan gelar 'kudus' kepada seseorang yang hidupnya tidak tercela dan karena pengantaraannya doa-doa orang dikabulkan Tuhan.

Penghormatan yang berlebihan tidak dianjurkan oleh Gereja, bahkan kalangan gereja-gereja Kristen sama sekali menolak adanya penghormatan kepada orang kudus apapun. Dalam Gereja Katolik, penghormatan itu mendapat tempat namun bukan syarat mutlak. Kendatipun demikian, banyak keuskupan, kota-kota, negara dll sering memilih seorang kudus sebagai pelindungnya. Demikian juga kelompok-kelompok profesional, misalnya St. Yosef sebagai pelindung para tukang kayu, St. Fransiskus de Sales menjadi pelindung para wartawan, dll.

Penghormatan kepada para kudus mendapat tempat khas di dalam Gereja Katolik terutama ketika seseorang dibaptis. Nama seorang kudus ditambahkan pada nama keluarga. Praktek ini sudah terjadi sejak abad ke-3.


Orang kudus dalam SVD, SSpS dan SSpS AP

Sampai dengan hari ini, baru segelintir kecil anggota SVD dan SSpS serta SSpS AP, tiga kongregasi religius yang didirikan oleh B. Arnoldus Janssen, yang dihormati sebagai orang kudus. Mereka adalah Santo Arnoldus Janssen (pendiri SVD, SSpS dan SSpSAP), Santo Josef Freinademetz (misionaris pertama SVD), Beata Maria Helena Stollenwerk (co-pendiri SSpS dan SSpSAP), serta Empat Martir korban perang dunia ke-2 yakni Beato Ludwik Mzyk, Beato Aloizy Liguda, Beato Stanislaw Kubista dan Beato Grzegorz Frackowiak.

Semoga kisah-kisa para beato dan beata (setingkat di bawah gelar santo/santa) ini dapat menjadi bahan refleksi anda di dalam hidup doa dan korban, serta pembaharuan komitmen misioner sebagai umat Allah yang dimeterai dengan baptisan suci.

sumber: Heuken, A. Ensiklopedi Gereja, III. Jakarta: Cipta Loka Caraka, 1993. pp.230-231.

 

Ajaran Konsili Vatikan II

"Adapun Gereja selalu percaya, bahwa rasul-rasul dan para martir Kristus, yang dengan menumpahkan darah telah memberi kesaksian iman dan cinta yang amat luhur, berhubungan lebih erat dengan kita dalam Kristus. Dengan bakti yang istimewa, Gereja menghormati mereka dengan Santa Perawan Maria dan para malaikat kudus, serta dengan khidmat memohon bantuan perantaraan mereka. Pada golongan mereka segera bergabunglah orang-orang lain, yang lebih dekat meneladan keperawanan dan kemiskinan Kristus, lalu akhirnya kelompok lain lagi, yang - karena mereka dengan cemerlang mengamalkan keutamaan-keutamaan kristiani serta menampilkan kurnia-kurnia ilahi - mengundang kaum beriman untuk berbakti dengan takzim dan meneladan mereka."

(LG 50)