PESTA
PERAK KAUL BRUDER OSCAR SVD YANG BEKERJA DENGAN
HATI

Acara perayaan 25 tahun
kaul Br. Oskar berlangsung jam 6 sore pada hari Minggu 6 Januari 2008, tepat
pada Hari Raya Penampakan Tuhan, di Gereja Sto. Yosef Matraman- Jatinegara-
Jakarta Timur. Misa dipimpin oleh Pater Provinsial SVD Jawa dan dihadiri
kurang lebih 20 imam SVD teman-teman Br. Oscar Romero SVD. Dalam
Kotbah, Provinsial, Pater Martin M Anggut, SVD menekankan beberapa point
penting. Pertama: Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan.
Sebetulnya Tuhan menampakkan diriNya kepada semua orang, semua bangsa, semua
suku, semua golongan. Tetapi tidak semua melihatNya. Ada halangan yang menutupi
mata untuk melihat Tuhan. Halangan itu disebut oleh Provinsial dengan sebuah
kata TOPENG. Kedua: Apakah kita juga masih mempunyai topeng sehingga sulit
melihat Tuhan yang telah menampakan diriNya kepada kita, yang hari Raya
PenampakanNya kita rayakan pada hari ini?
Ada empat topeng yang menghalangi atau diciptakan manusia sehingga menjadi
halangan untuk melihat Tuhan yang telah menampakan diriNya kepada manusia.
Pertama, Topeng Kuasa.
Ini jelas terlihat dalam diri wakil penguasa dunia sepanjang zaman yaitu
HERODES. Dia dikuasai oleh topeng Kuasa sehingga tidak melihat TUHAN. Atau
melihatNya tetapi tidak memberi respons positif. Sebaliknya dia memberi
respons negatif karena melihat TUHAN sebagai ancaman terhadap Kuasanya yang
sedang jaya pada saat itu.
Kedua, topeng materialisme.
Topeng ini dibuat dan digunakan oleh manusia sekaligus sebagai penghalang
mata untuk melihat TUHAN yang telah menampakkan diri. Materi dijadikan tujuan
bukan sebagai sarana dalam hidup. Satu efek nyata yang ditemukan dari Topeng
Materialisme ini adalah anak muda zaman ini kejar harta duniawi, sulit mengejar
hal rohani, terutama sulit mengikuti panggilan TUHAN dalam hidup membiara.
Realitas ini menjadi tantangan bagi umat Katholik dan Gereja Katholik untuk
bertanya diri apakah pada zaman ini menjadi biarawan atau imam itu suatu
kebodohan? Kalau ditakar dari materialisme sebagai tujuan maka benar bahwa
menjadi biarawan, biarawati, imam, bruder, suster itu adalah suatu kebodohan.
Tetapi kalau ada kerinduan umat untuk mencari dan mengalami TUHAN sebagai
pusat kebahagiaan sejati maka imam sama dengan ada Perayaan Ekaristi pusat
iman kita. Kesederhanaan dan kesetiaan imam, biarawan, biarawati, frater,
bruder dalam hal kecil adalah teladan bagi sesama. Disitulah satu Tanda
Penampakan Tuhan bagi dunia. Umat merasakan kehadiran Tuhan lewat teladan
hidup imam, suster, biarawan, biarawati, bruder dan frater. Bruder
Oskar Yosef Yakob Romero, SVD telah 25 tahun hidup membiara. Kekuatan dia
adalah kesetiaannya dalam hal kecil. Kekuatan dia adalah dukungan dari sesama
konfrater dalam hidup berkomunitas. Bruder
Oskar ini pribadi yang setia dalam hal kecil. Dia yakin bahwa hanya setia
dalam hal kecil, dia pasti akan setia dalam hal yang besar. Keunikan lain
yang sempat diungkapkan Provinsial dalam kotbah itu adalah bahwa Oscar suka
membantu dan rela berkorban serta punya HATI pada tugas dan tanggungjawab
yang dipercayakan kepadanya. Banyak konfrater merasakan bahwa Br. Oscar
melayani dengan hati. Banyak orang yang datang ke Soverdi Jakarta mengalami
kehadiran Tuhan yang hari ini kita rayakan Hari Raya PenampakkanNya, dalam
diri Br. Oskar. Keberadaan Br. Oscar ini terungkap dalam moto pesta Perak
hidup Membiara yang diambil dari Yoh 1.39: " Marilah, dan kamu akan
melihatNya". Tuhan hadir dalam diri manusia. Menghargai dan menghormati
serta melayani sesama dengan HATI berarti melayani TUHAN. Manusia yang melihat
orang yang melayani dengan HATI, disitu pula dia melihat Tuhan yang menampakkan
diri kepadanya.
Ketiga, Topeng Harga
Diri. Banyak orang dibutakan oleh topeng harga diri sehingga tidak mampu
melihat Tuhan yang telah menampakkan diri kepada manusia. Pribadi manusia
yang demikian hanya menjadikan diri sebagai pusat dalam hidupnya. Yang utama
adalah aku bukan TUHAN.
Keempat, topeng sukuisme.
Topeng ini menutup diri atau menyulitkan manusia untuk melihat penampakan
Tuhan. Orang menggunakan topeng ini, melihat sukunya paling benar. Orang
yang bertopeng yang satu ini merasa diri lebih unggul, lebih utama, sedangkan
golongan lain, suku lain adalah inferior.Lalu
bagaimana kita sebagai umat beriman yang hadir dalam Hari Raya Penampakan
Tuhan ini? Kita sebagai umat beriman yang datang Merayakan Hari Raya Penampakan
Tuhan ini, benar-benar mau membuka diri, membuka mata hati kita untuk melihat
penampakan Tuhan dan menerima Tuhan itu dalam diri kita agar kita menjadi
utusan Tuhan pada zaman ini untuk menampakan Tuhan kepada dunia, kepada
sesama dalam kesetiaan kita kepada Allah dalam tugas pelayanan kepada gereja
dan dunia. Kehadiran kita menjadi bintang TUHAN kepada dunia. Agar kita
mampu dalam hal yang satu ini maka kita harus secara jujur dan dengan rendah
hati membuka dan melepaskan topeng-topeng yang kita ciptakan dan kita gunakan
agar secara jelas kita melihat Tuhan yang telah menampakan diri kepada kita
dan menerimaNya dalam hati sehingga pancaran KasihNya dapat menerangi dunia
dan sesama lewat diri kita masing-masing yang mengimaniNya.
Sementara itu dalam
sambutan P. Yosef Jaga Dawan, SVD rektor distrik Jakarta, dikatakan bahwa
Bruder Oscar adalah orang sederhana, pendiam, tidak banyak bicara, tetapi
lebih banyak berbuat, melakukakan tugas, perkerjaan dan tanggungjawab yang
dipercayakan kepadanya. Br. Oscar mencintai pekerjaan pokoknya. Dia bekerja
dengan HATI. Dia sedikit bicara tapi banyak sekali melaksanakan. Dalam
sambutan sang Yubilaris, Br. Oscar mengungkapkan bahwa dia dapat memasuki
25 tahun hidup berkaul dalam SVD karena relasi intimnya dengan Tuhan lewat
doa dan Ekaristi. Dia merasa diteguhkan oleh sesama konfrater SVD yang mendukung
karyanya dan menerima semua keterbatasan dan kelemahannya. Selamat
berbahagia di perak Kaul dalam SVD. Teladanmu Bekerja dengan Hati dalam
komunitas SOVERDI sungguh memberi inspirasi bagi kami. Kami melihat Tuhan
lewat dirimu.
(*Beny Mali, SVD*)