FORMASI NASIONAL DAN DIALOG PROFETIS

(P. Y.B. Isdaryanto, SVD)

 

Pengantar

Tujuan seluruh formasi kita adalah untuk menjadi manusia yang matang dan integral serta untuk misi. Perjalanan menuju kepada manusia SVD yang sejati merupakan suatu proses yang panjang. Untuk mewujudkan itu semua para Provinsial memberi tugas kepada para formator untuk mendampingi para calon kita.

Dalam konteks Formasi SVD di Indonesia, para formator dari keempat Provinsi setiap dua tahun bertemu untuk mengevaluasi program yang sudah ada, melengkapi yang masih kurang dan mencari terobosan baru untuk menjawabi kebutuhan jaman sesuai dengan apa yang menjadi visi SVD sejagat. Tahun ini pertemuan para formator SVD Indonesia diselenggarakan di Novisiat Sang Sabda Kuwu – Ruteng. Tema yang dipilih adalah “Formasi Nasional dan Dialog Profetis.”

Melalui tulisan singkat ini kami ingin membagikan pengalaman kami selama mengambil bagian dalam pertemuan yang diselenggarakan dari tanggal 24 sampai dengan 28 November 2008 yang lalu.

Peserta dan Materi Pertemuan

Pertemuan ini dihadiri oleh 30 orang formator dari keempat Provinsi SVD Indonesia (Ruteng, Timor, Ende, dan Jawa). Termasuk di dalamnya: dua Provinsial SVD dari Jawa dan Ruteng, Wakil Provinsial SVD Timor dan Konsultor Provinsial dari Provinsi Ende serta dua suster SSpS dari Provinsi Flobar yang hadir sebagai undangan khusus. Hadir juga Koordinator MER dan Koordinator Biblical Apostolate ASPAC. Para formator bekerja di pelbagai Lembaga Formasi: dari Postulat, Novisiat, Skolastikat/Yuniorat dan dari Pembinaan Berlanjut. Selama pertemuan suasana begitu akrab karena pada umumnya memang sudah saling mengenal.

Dari segi acara, pertemuan kali ini memang kami rasakan cukup padat.. Untung saja cuaca yang cukup sejuk cenderung dingin dan tempat yang sepi dengan ekologi yang segar dan bersih serta sehat sangat mendukung pertemuan kami; sehngga untuk bekerja juga kurang terasa melehkan. Agenda pertemuan antara lain: sharing dari masing-masing Lembaga Formasi berkaitan dengan bagaimana pelaksanaan manuale Formasi SVD Indonesia. Manuale Formsi yang berisi tujuh materi pembinaan (aspek psikoemosional, aspek hidup rohani atau psikospiritual, hidup berkaul, hidup berkomunitas, hidup akademis, hidup pastoral-misioner dan kesehatan fisik & mental).

Seperti biasa kadang terjadi di lembaga apapun, ada program yang sudah berjalan dengan baik, ada yang masih kurang, ada yang karena situasi maka tidak bisa seluruh poin diwujudkan, dsb. Satu hal yang menarik dari sharing di antara para formator ialah bahwa pada umumnya ke-7 aspek itu sudah diusahakan diwujudkan untuk membekali konfrater sebelum pergi bermisi.

Waktu, selama pertemuan, banyak kami pergunakan untuk membicarakan formasi dasar (basic formation) karena ini yang menjadi tugas utama kami. Tetapi kami juga mendiskusikan Lembaga Pembinaan Berlanjut. Dua saudari kita dari SSpS juga tidak kalah semangat dalam membagikan pengalaman mereka tentang bagaimana formasi dasar maupun berlanjut di SSpS Nasional dan juga sejagat.

Di samping itu kami juga melihat bagaimana Dialog Profetis yang merupakan hasil Kapitel Jenderal SVD terakhir diimplementasikan dalam Lembaga Formasi maupun bagaimana itu dikembangkan untuk masa yang akan datang. Maksudnya ialah bagaimana kita mencari cara-cara yang lebih efekti untuk merealisaikan visi Kapitel Jenderal SVD yang begitu indah dalam konteks misi dewasa ini. Untuk itu kami membaharui dan melengkapi serta menambahkan tema-tema penting dalam formasi lewat kesepakatan-kesepakatan bersama.

 

Kesepakatan Kuwu

 

Kesepakatan sebagai hasil pertemuan tak bisa dipisahkan dari apa yang sudah kami bicarakan dua tahun sebelumnya atau tahun-tahun sebelumnya. Ini bertujuan untuk menjawabi kebutuhan jaman sekaligus menyempurnaan program pembinaan dan pendampingan untuk para calon misionaris kita.

Adapun kesepakatan-kesepakatan tersebut adalah:

    • Kebiasaan membaca bacaan rohani di Novisiat supaya diteruskan di Yuniorat/Skolastikat dan prefek (formator) diharapkan untuk memberi tugas kepada formandi dan memantau pelaksanaannya.
    • Perlu diperhatikan secara serius kontinuitas program-program dari jenjang ke jenjang supaya tidak terjadi tumpang tindih.
    • Hasil test IQ-EQ-SQ dan AQ yang telah dibuat untuk para formandi supaya ditindaklanjuti dalam seluruh proses pendampingan mereka.
    • Program exposure dan live in bagi para formandi supaya tetap dijalankan, agar spiritualitas dialog-profetis dihidupkan dalam matra-matra khas SVD sejak awal.
    • Perlunya membangun komunikasi dan jaringan informasi yang intens antara para formator.
    • Perlu ditingkatkan kerja sama internal dan eksternal untuk membantu formator dalam pengolahan diri, bimbingan rohani dan supervisi pastoral para formandi. Untuk itu Seknaspen dan direktur Nasional Pendidikan Bruder bertugas mengkoordinasi para ahli, baik SVD maupun non-SVD untuk mewujudkan rencana tersebut.
    • Perlu adanya seorang perfek apostolat di Seminari Tinggi dan orang yang melakukan supervisi pastoral di tempat TOP/TOM.
    • Perlu ditingkatkan program sharing formator antar rumah formasi berdasarkan kebutuhan dengan durasi waktu tidak lebih dari 1 bulan
    • Managemen Konflik supaya diberikan selama proses formasi, dalam rangka pembinaan Psikoemosional, Hidup Komunitas dan Pastoral Misioner.
    • Mengingat pentingnya KS dalam Tarekat dan pewartaan misioner kita, input tentang KS dan Analisis Social perlu diberikan pada jenjang Yuniorat/Skolastikat dan Bina Lanjut
    • Perlu kerja sama yang lebih baik lagi dengan SSpS berkaitan dengan Program Bina Lanjut.
    • Seminari Tinggi diharapkan lebih proaktif untuk mencari tempat untuk TP/TOP/TOM dan OTP
    • Pimpinan Provinsi-provinsi SVD Indonesia diharapkan menjajagi kemungkinan menerima formandi dari luar negeri untuk ber-OTP di Indonesia; sehubungan dengan ini direktur-direktur OTP perlu menyiapkan Programnya.
    • Para bruder yunior yang sudah menyelesaikan studi profesi bisa ber-OTP/studi di Luar Negeri.
    • P ara frater Ledalero yang ber- IPK 2, 75 ke atas wajib mengikuti Program Magister Teologi di STFK Ledalero.
    • Test seleksi awal untuk calon tetap diperlukan dengan standar IQ minimal 110. Calon dengan IQ di bawah 110 dapat diterima dengan pertimbangan khusus. Test awal tersebut harus dilengkapi dengan instrumen-instrumen lain (misalnya test EQ, SQ, dan wawancara) supaya informasi tentang calon yang diajukan ke Provinsi penerima lebih komprehensip.
    • Calon yang secara medis terbukti albino ditolak.

 

Penutup

Demikianlah sebagian sharing dari pertemuan para formator nasional di Kuwu-Ruteng. Kesepakatan-kesepakatan yang bagus yang lahir dari kerja keras para peserta pertemuan tersebut perlu diwujudkan dalam kerja sama dengan semua konfrater yang terlibat dalam pembinaan maupun kita semua yang lain. Mudah-mudahan dengan bantuan Allah Tri Tunggal Mahakudus, kita bisa menyiapkan para misionaris yang siap untuk pergi memberi kesaksian akan Kristus ke seluruh dunia.

Berita Lain

Info Personalia

Kemandirian Finansial