PATER BEN UJAN SVD
PROFIL SEORANG MISIONARIS PEDALAMAN BORNEO
Pada tanggal 7 Juli 2009 Paul Rahmat berbincang-bincang dengan P. Ben Ujan di pastoran Telok, Katingan Hilir, sekitar 190 km dari Palangkaraya - Kalteng. Dalam perbicangan sekitar tiga jam itu, P. Ben mesharingkan pengalaman misinya 15 tahun bekerja di antara umat dan masyarakat suku Dayak di Katingan. Bagaimana strategi missioner yang dipilih guna menjawabi situasi riil setempat? Spiritualitas apa yang dihidupinya sehingga ia bisa ‘survive’ bahkan mencintai umat dan masyarakat Dayak di tengah tantangan alam (riam-riam), mental masyarakat dan ‘dunia yang lain’ di daerah pedalaman Borneo itu?
Paul:Kapan pater mulai bekerja di paroki ini?
Ben: saya sampai di sini tanggal 26 Nopember 1994.
Paul:Tolong ceritakan mengapa pater sampai di sini?
Ben: Ya… saya bisa kembali ke belakang. Saya sudah dapat benuming, surat keputusan untuk pindah ke Kaltim. Tanggal 15 Oktober saya bertemu dengan Pater Provinsial, P. Cipry Nati. Saya menanyakan kapan saya berangkat? Lalu beliau mengatakan: “Ah pastor bisa berangkat secepatnya tapi pater kalau di Kaltim masih ada pastor pembantu, di sana masih bisa cari orang lain. Tetapi di Kalbar itu ada pastor muda yang mau kuliah di Filipina tapi belum ada pengganti. Sudah, kalau bisa siap ke Kalbar. Kemudian, kalau Kalbar masih ada pastor di sana, masih satu dua bulan kita bisa cari orang. Tapi masih satu paroki yang tiga tahun tidak ada pastornya.” Saya tanya di mana itu? “Di Katingan….” Katingan itu di mana? “Di Palangka…” Saya bilangg belum ada gambaran sama sekali di mana itu….. Artinya kalau bisa tiga tahun tidak ada pastor jauh lebih membutuhkan daripada tempat lain. Tentu saya siap untuk pergi ke sana. Dia katakan, “tapi Ben… itu tempatnya agak sulit.” Tapi sulitnya apa pater? Karena saya mulai bayangkan kalau tiga tahun tidak ada pastor, tentu sulit. Tapi sulitanya apa? “Oh…banyak riam.” Banyak riam…? Menurut saya, tidak ada masalah. Itu bukan kesulitan, itu adalah tantangan. Jadi, menurut saya, bagaimana pun saya pergi ke sana. Tapi dia katakan, “Ben… apa itu tidak pater lihat sebagai suatu pembuangan.” Loh, kok kenapa itu pembuangan pater. Karena saya merasa bahwa paroki sudah tiga tahun tidak ada pastornya, berarti umat itu sangat membutuhkan. Karena itu saya pergi kesana, saya tidak melihat itu sebagai pembuangan. “Begini pater, selama hampir 25 tahun ini pater kan dari kota ke kota. Sehingga semuanya serba ada. Sekarang pater harus ke desa di mana mulai dari nol sama sekali. Tidak ada apa-apanya. Itu berarti bisa dibayangkan sebagai suatu tempat pembuangan.” Saya katakan, pater keliru. Karena saya selama ini pinginnya ke desa. Tetapi selalu dari kota ke kota, dari kota yang paling kecil sampai kota metropolit. Sehingga untuk itu artinya saya merasa sudah jenuh dan sekarang saya mau lari ke desa. Dan kalau sekarang di suruh ke desa, nah itu justru bukan…bukan karena… disuruh, tapi itu karena saya mau.
Lalu dia katakan, “ya pater… saya terimakasih sekali kalau bahwa sekarang Pater mau.” Dia lihat jam, dia bilang: “ini suatu yang luar biasa pater.” Saya katakan, kenapa? “Orang lain, kalau saya tawarkan begini, mereka bilang pikir dulu. Satu dua bulan, ya… satu tahun barangkali. Tetapi pater dalam 3/4 jam sudah putuskan, sudah harus pergi.” Tetapi pater dalam hal ini saya tidak pikir banyak. Saya hanya lihat, tiga tahun umat tidak ada pastor; itu berarti suasana riil sangat membutuhkan kehadiran saya. Jadi, saya siap untuk pergi. Jadi, tanggal 15 Oktober bertemu dengan pater provinsial, tanggal 15 Nopember terbang ke Palangka, lalu 10 hari di sana. kemudian tanggal 26 Nopember saya masuk di Katingan. Waktu itu dijemput oleh Sr. Elis.
Paul:Keprihatinan-keprihatinan pastoral apa yang pater lihat ketika mulai bekerja di wilayah ini?
Ben: Selama tiga tahun itu, saya lihat bahwa umat sudah lama tidak dikunjungi. Hanya suster yang kunjungi, pastor satu dua kali datang, kemudian pergi. Sehingga dengan itu ada banyak hal yang perlu ditangani. Terutama dengan kunjungan rutin. Bagaimana supaya umat ini betul-betul dapat dihidupkan kembali. Sehingga mulai saat itu saya lebih konsern pada turne-turne.
Sedangkan kemudian, waktu saya datang itu baru beberapa hari, itu justru banjir naik sampai di bawah ini (lantai bawah). Suster suruh naik ke atas (di lantai dua). Saya bilang; tidak, saya tetap di sini. Tiap-tiap kali saya lihat air belum naik, sudah… tidur lagi. Sampai pagi ternyata tidak naik. Tapi gereja itu justru air naik sampai di tengah jendela. Sehingga akhirnya kemudian saya pikir, bagaimanapun juga kita harus segera pindahkan lokasinya. Sehingga waktu mulai saya datang, saya mulai program bangun gereja yang baru ini. Bersama suster kami berjalan dengan umat dari Jakarta yang jadi pengusaha di sini…. Akhirnya gereja itu diresmikan tanggal 1 Januari (2005) oleh bapa uskup. Kira-kira awalnya bangun gereja itu dan mulai turne-turne yang basisnya sudah ada.
Paul:Selain bangun gereja dan turne-turne, persoalan-persoalan apa yang pater lihat, tidak hanya dalam konteks gereja tetapi juga masyarakat pada umumnya?
Ben: Jadi sesudah saya berjalan sampai ke Tenggareng, itu pengamatan saya pada awal saya lihat bahwa tanah subur sekali, tetapi kok manusianya miskin sekali. Sehingga sejak dari awal itu menjadi komitmen pribadi saya, bagimanapun juga saya berusaha, taraf hidupnya dianggkat. Jadi akhirnya dengan melihat situasi riil, di mana iman umat seperti itu, sehingga saya membuat program di bidang rohaninya pembinaan umat, tetapi juga saya melihat situasi riil di mana umat tidak bisa datang ke gereja kalau lapar. Dan kebanyakan kita datang mereka di ladang. Apalagi waktu itu masih ladang berpindah. Jadi kadang-kadang jauh dari kampung. Akhirnya kadang-kadang kita bersabar saja, kalau datang kampung kosong. Meskipun kita sudah pesan, bikin jadwal. Itu menjadi masalah mendasar yang perlu kemauan dari pastor sendiri, sikapnya untuk menghadapi situasi riil seperti itu.
Karena tadi saya singgung keprihatinan mengenai keadaan masyarakat seperti ini di mana mereka tinggal di lahan yang subur tetapi manusianya miskin. Lalu tiap kali kunjungan, itu sesudah kebaktian saya mulai bicara dengan umat mengenai program apa yang mereka harapkan. Sehingga mulai saat itu mereka majukan karet unggul. Sehingga 95 – 97 saya datangkan karet unggul dari Jawa. Di sini belum ada karet unggul. Karet biasa sudah banyak, tetapi karet unggul belum ada. Jadi saya datangkan karet ungul dan saya pelajari tentang karet. Kemudian saya beri pengarahan-pengarahan tentang karet. Jadi, kalau sambung tadi, sementara bicara dengan masyarakat, … biasanya bukan hanya dengan orang katolik tetapi juga dari Kharingan dan Islam, kami mulai ngobrol. Saya tanyakan, keinginan mereka apa. Harapan mereka apa untuk bisa hidup lebih baik.
Paul:saya tertarik dengan pembicaraan bersama umat setelah kebaktian. Bagaimana proses dialog itu sampai umat yakin dan tergerak dan akhirnya melibatkan diri dalam apa yang pater anjurkan itu?
Ben: Jadi akhirnya mulai dengan mereka minta karet, lalu saya coba datangkan karet. Pertama lewat keuskupan, untuk ambil… apa namanya… minta dari APP. Kemudian, kalau pengiriman tahap pertama, saya belum punya pengalaman, langsung mereka datangkan dari Salah Tiga lewat pesawat. Sehingga begitu mahal hampir 10 juta. Lalu karena lewat pesawat, saya ‘ kan tidak tahu, sampai di sini itu sudah hancur, karena dia punya mata sudah mati, sudah kering. Akhirnya setelah dievaluasi, ternyata semuanya gagal total. Itu tahap pertama. Saya karam di riam di hulu Senamang, karena saya bagi setiap kampung sekian ribu biji. Permulaan saya tanam di sini, kemudian saya bagi bibit biji ke hulu. Itu, akhirnya karam di riam. Karet 15 karung itu habis…, hancur total.
Paul:Bagaimana perasaan pater waktu itu?
Ben: Memang betul… hancur. Karena kita sudah berjuang setengah mati. Bawa begitu jauh dan begitu mahal, ternyata akhirnya sia-sia. Tetapi kemudian tahun berikutnya saya masih dapat lagi. Tetapi kemudian saya sendiri pergi cari. Karena saya cari, berarti ada jalur yanglebih mudah dan lebih dekat dan dengan itu saya bisa selamatkan. Karena saya bisa berapa waktu itu 2½ juta, waktu saya dapatkan 35 – 38 ribu biji untuk dibagikan setiap desa sesuai dengan kelompok taninya. Dan dari perkembangan itu, masyarakat saya beri petunjuk sampai dengan buat persemaian dan diatur bagaimana sehinga semuanya itu bisa sukses pada persemaian.
Paul:Pater sendiri yang lakukan itu?
Ben: Ya, dan sesudah tumbuh 3 bulan sesudahnya saya katakan lasung pindahkan ke kebun. Ternyata, tiap kali saya datang, karena hanya satu-satu malam, itu justru saya peringatkan pindahkan. Kali berikut saya datang, masih ada di situ. Kok, belum pindahkan. Pindahkan sudah…! Sampai batangnya sebesar lengan tangan, tidak bisa lagi dipindahkan. Sehinga akhirnya memang sesudah saya melihat itu. Saya langsung pikir, saya berjuang cari uang. Kemudian kita bagikan sekian, ternyata masyarakat tidak tanggapi dengang serius. Hanya yang tanggapi, itu yang suster Elis katakan bahwa di tempat itu yang betul berhasil. Mereka sekarang panen. Mereka punya hidup jauh lebih bagus. Itu mereka dihilir. Dan bukan katolik itu - Kristen dan Kharingan. Mereka lebih banyak ambil bibit dari sini dan yang lain biji. Itu mereka rawat agus. Sehingga mereka punya ratusan pohon tiap orang. Saya bilang, Kalau kamu tanam sekarang, persis kamu panen harga naik. Dan betul. Persis mereka panen harga naik. Sehingga mereka betul untung sekali. Suatu kali waktu kami bertemu, bapa itu katakan: “Terima kasih banyak. Sekarang, kami sungguh merasakan apa yang Pastor katakan dulu. Itu persis kami panen, harga naik. Itu yang pertama. Kedua, kami tidak sadap sendiri tapi bagi hasil. Dengan bagi hasil itu pun, kami masih dapat keuntungan. Dari pengeluaran-pengeluaran harian untuk makan, untuk anak sekolah, dan lain sebagainya kami masih tiap minggu 2½ juta kelebihan uang untuk disimpan di bank. Sehingga kami rasakan bahwa bantuan pater itu kami sudah nikmati.
Paul:Berapa banyak orang yang menikmati keuntungan itu?
Ben: Mungkin sekitar 20 orang. Hanya dua tiga desa yang seperti itu. Itu sesudah 5 tahun, jadi tahun 1995 saya mulai dan 1999 saya evaluasi; dari eveluasi itu saya lihat bahwa keberhasilan itu hanya sebagian kecil; boleh dikatakan mungkin ya… 5% lah yang berhasil. Yang lain gagal total. Dari hasil evaluasi, saya melihat, bahwa saya datang dengan pikiran yang terlalau tinggi. Dengan tanaman budi daya. Di mana rang belum kenal budidaya.
Sehingga pendampingan saya, mulai tahun 1999 saya lihat bahwa alasan mendasar itu justru mental mereka itu mental alam. Kalau mental alam, mereka sama sekali bergantung dari alam. Dari hasil hutannya. Kalau mental alam, itu berarti mental petik. Mereka tanam, tumbuh dengan hasil. Lalu kadang-kadang mereka lihat sudah berhasil atau belum. Misalnya karet. Mereka tanam, sampai 15 tahunan baru datang panen. Karena tidak dibersihkan. Itu ‘ kan itu mental apanya…. tanam ada tapi tidak rawat. Itu karena mental alam 100% tadi. Dari mental alam ini, mempengaruhi dia jadi mental instant. Mau dalam waktu singkat dapat uang banyak. Tidak mau kerja setengah mati di kebun. Sehingga mereka akhirnya lebih banyak beralih ke yang instant tadi, emas atau batang kayu.
Paul:Sekarang pater beralih dari pastoral parokial yang umum ke pastoral khusus dengan program social forestry. Apa alasan utama bagi pater menempuh jalan itu?
Ben: alasan utamanya itu justru… saya melihat bahwa kalau orang lapar tidak bisa ke gereja. Dia harus diangkat taraf hidupnya. Kalau mannya lebih dulu, kita katakan Tuhan itu …. tidak masuk. Mereka katakan, Tuhan tidak bantu kami kok, kami yang kerja setengah mati. Artinya saya mulai mengubah cara pikir saya untuk bahwa iman tetap jalan, pendalaman iman dan sakramental ... tapi bahwa mulai gerakan membangun kehidupan hariannya, fisiknya, jasmaninya. Untuk itu, dari evaluasi tadi, saya melihat bahwa ini ah…mengikuti jalan pikir membangun dengan menanam karet, ternyata saya gagal. Kalau begitu, sekarang mau buat apa? Akhirnya…saya mulai mendapat gambaran back to nature. Kembali kepada apa yang menurut mereka. Untuk itu saya turun ke bawah untuk menyelami hidup mereka, lihat alam, hutannya. Karena mereka di sini, umumnya pada saat itu, hidup di dalam hutan dan sekitar hutan. Jadi berarti dengan itu saya harus kembali ke mental hutan tadi.
Dan persis pada saat itu, akhir ‘99 saya dapat buku UU Kehutanan. Dan itu semua yang boleh dibilang kebetulan, tetapi bagi saya itu penyelengaraan Tuhan di mana saya dalam proses itu, Tuhan mengantar saya, membimbing saya masuk persis. Jadi pada saat itu saya dapat itu, saya pelajari dan ternyata saya menemukan social forestry di dalamnya. Dengan istilah ‘social forestry’ itu, hutan kemasyarakatan, saya ulai masuk dengan hutan kemasyarakatan. Kebetulan… bapa bupati tertarik dengan social forestry ini. Dan akhirnya beliau meresmikan social forestry itu.
Paul:Proses pembentukan social forestry itu bagaimana?
Ben: Social forestry ini, pertama ‘ kan 1999-2000 itu sudah berjalan sebenarnya social forestry. Tetapi persis pada saat itu, ada pertemuan dengan ibu Nyelong yang sekarang jadi isterinya pak Sonny Keraf. Beliau datang pada saat itu di mana kami adakan pertemuan dan dalam pertemuan itu saya coba memasukan ide, gagasan social forestry untuk bangun hutan rakyat. Lalu beliau mengatakan, kami semua mendukung. Kebetulan dia dosen, ketemu dengan kelompok saya Yayasan ‘Telok Padi’ - Yayasan Padi untuk social Forestry. Kalau pastor mempunyai gagasan seperti itu, saya setuju sekali, saya mendukung sekali. Kalau begitu kita bisa jalin kerja sama dengan kelompok. Waktu itu kelompok ini sudah ada. Tapi karena kemudian munculnya yayasan Padi, saya bilang sudah… ada hubungan nama dengan Yayasan Padi, kita beri nama TELOK PADI. Sehingga mulai saat itu, 2004 itu, ada peresmian oleh Bapa Bupati di mana ada rapat sebelumnya, kami putuskan engenai social forestry. Kemudian, kami putuskan juga untuk hutan lindung.
Tanggal 29 Januari 2004 itu beliau hadir sendiri dan bapa uskup juga hadir waktu itu… Pa Bupati, orang Kristen, ikut misa seluruhnya dan dengan semua dari Pemda turun ke sini. Waktu itu dalam sambutan saya, saya laporkan semua kegiatan social forestry ini. Sehingga ada dua hal yang besar: pertama, social forestry diresmikan; yang kedua, itu hutan lindung diangkat. Itu kami sudah canangkan, untuk km 20 s/d. km 30, lengkap dengan buat petanya. Tapi waktu itu tidak permohonan tertulis. Saya hanya buat laporan secara lisan itu, langsung ke bapa Bupati diangkat sambutannya. Lalu keluar. Beliau dengan pukul gong, kemudian keluar mersemikan papan nama “Social Forestry Kecamatan Kayu Gharing”… Dengan itu, wadah social forestry mulai 2004 ini dikenal oleh masyarakat secara luas.
Paul:Bagaimana Social forestry ini dikembangkan menjadi sebuah organisasi?
Ben:Social forestry ini masih atas nama pribadi sampai sekarang. Tapi itu suatu proses. Saya katakan, nanti pada waktunya saya akan angkat dia sebagai suatu….. yang lebih jauh lagi dalam pendampingan. Sehingga kemarin saya katakan, sekarang timingnya social forestry ini harus diangkat secara resmi bergerak supaya lebih maju lagi. Kalau selama ini saya berjuang sendiri. Saya belum melihat peluang untuk bagaimana munculnya. Sehingga kemarin dengan kehadiran pater itu, saya merasa bahwa ini waktu supaya wadah ini, Social Forestry, dan ternyata juga ditanggapi serius oleh LMMDD/KT (Lembaga Musyawarah Masyarakat Dayak dan Daerah Kalimantan Tengah). Sehingga saya katakan, nah ini timingnya. Karena mereka sangat mendukung dan mereka katakan ini satu-satunya gebrakan yang ada di Kalimantan Tengah. Untuk membangun social forestry, dengan social forestry itu membangun hutan rakyat. Dan ini sebenarnya yang kita butuhkan. Pikiran seperti ini, yang riil, praktis, masuk ke dalam kehidupan masyarakat kita. Di mana masyarakat adat Dayak sangat bergantung pada hutan. Jika kita tidak kembali kepada hutan, maka dengan sendirinya kita masih mengambang. Karena sekarang justru kita dorong tarik keluar untuk budidaya. Dengan budidaya itu, berarti lepas dari hidup hutannya. Dari akar hidupnya. Dan itu menjadi kesulitan. Sehingaga saya melihat bahwa ini event bagus, di mana dengan kehadiran pater dari JPIC, lalu kehadiran LMMDD/KT, sebetulnya event untuk saya munculkan wadah ini secara resmi untuk hadir sebagai nucleus inti yang masih bertumbuh. Sekarang justru saya cari timing agi supaya bagaimana wadah ini diresmikan secara hukum.
Paul:Siapa saja yang terlibat langsung dalam Social Forestry ini?
Ben: yang sekarang saya sendiri. Justru yang sekarang muncul itu dua orang ini: Pa Ogot dan Pa Gute, ketua kelompok tani. Karena mereka mengerti social forestry begitu dekat dengan melihat bahwa kalau hutan kita dilestarikan sebagai hutan adat, dengan membangun hutan rakyat ini, ini betul-betul sangat menguntungkan kami. Karena saya katakan bahwa hutan itu tanaman jangka panjang. Untuk jangka pendeknya, di situ kita tanam hutan yang tidak kita tebang pohonnya. ‘ kan kita petik hasilnya. Jadi saya bilang, justru ini yang kita harus usahakan. Ada yang memang betul hutan yang kita tanam untuk petik hasilnya, ada yang ditanam untuk logging di mana kita perhitungkan untuk jangka panjang kita bisa peroleh milyard-an….
Saya yakin. Anda kalau belum yakin, tidak apa-apa. Tapi nanti saya akan buat misalnya dengan leaflet-leaflet itu, ya selebaran-selebaran tentang komoditi-komoditi jangka pendek, jangka menengah, jangka panjang. Anda bisa tahu, oh… kalau sekian bulan kami dapat hasil seperti ini. Sekian tahun kami bisa dapat hasil dengan 1 kg seperti ini. Ya, dan sekian tahun 1 kubik bisa dapat dengan harga seperti ini. Sehingga dengan itu kita bisa perhitungkan, kapan saya bisa memetik hasil itu. Tetapi sekarang kita tidak ada gambaran.
Paul:Siapa-siapa saja yang terlibat dalam kelompok itu dan ada berapa banyak anggota di dalam kelompok social Forestry itu?
Ben: Kelompok ini multi-agama. Ada Kharingannya, ada Islamnya, ada Protestan dan ada Katoliknya. Kami yang sekarang ini, sudah terdaftar malah sudah 70 (orang). Untuk satu kelompok: Telok Padi sendiri. Itu pasti akan berkembangn terus. Karena kalau teman-temannya cerita, cerita, cerita…. itu makin merambat dan itu orang akan mulai mengerti.
Jadi, artinya dengan itu kelompok ini ‘ kan saya jadikan sebagai contoh kelompok model. Kalau kelompok model jadi, saya yakin banyak desa juga akan minta. Dan Memang, selama ini banyak desa minta saya untuk menjadi pendamping. Tapi saya bilang, maaf. Saya sekarang, saya tentukan di pusat untuk membuat satu model dulu. Kalau model sudah jadi, baru nanti akhirnya ditanggapi. Datang belajar di sini, apa programnya.
Paul: Apa saja kegiatan kelompok untuk satu dua tahun ke depan dengan social Forestry?
Ben: Untuk kita sekarang, justru ada gembrakan dua kelompok tani: Kelompok tani Telok Padi dan Kelompok Tani ... Penalambang. Yang satu di daerah Hilir di belakang Telok, 8 km dari sini; yang lain di Hulu sana di Km 13 – 19. Itu justru, pasti bulan berikut ini sudah jalan di mana kelompok ini harus mulai dengan programnya pemerintah. Jadi Kalau program dari pemerintah turun, itu kami akan adakan rapat, lalu pemerintah mensosialisasikan apa yang mereka rencanakan. Dan komoditi apa ayng harus di tanam di sini. Nanti kelompok ini yang harus jalan untuk mengerjakan ini. Sebelum mengerjakan ini, keuangannya itu terkontrol. Keuangan dari pemerintah, tidak seperti biasannya diserahkan kepada ketua kelompok tani dan bendaharanya; biasanya uang itu habis. Tidak bisa saya katakan. Kalau begitu ketua kelompok tani pegang dengan bendaharanya. Uang ini kalau keluar, saya harus tanda tangan, saya harus kontrol. Untuk yang kerja di lapangan, itu orang kerja baru dapat duit. Jadi, kalau dia tidak kerja, dia tidak dapat duit. Jadi, minta maaf saja, kalau sebentar orang datang minta uang karena anggota; saya katakan maaf. Anda kerja dulu. Tunjukkan bukti di lapangan. Kalau pemerintah bantu, ini untuk anda maju. Anda kerja sebagai upah untuk hidup, tapi anda tanam untuk anda sendiri dengan anak cucu. Kalau tidak kerja, maaf, saya tidak kasih.
Sehingga untuk pendampingan ini, program-progaramnya ini, karena dari pemerintah akan turun seperti ini, saya lalu mulai dengan pemikiran bagaimana mempersiapkan diri saya untuk pendampingan. Jadi saya mempersiapkan bibit-bibit.
Paul:Bibit apa yang sudah disiapkan sekarang?
Ben: Bibit yang sudah ada bibit sengon yang saya bawa dari Jakarta, di mana saya beli 1 kg. Dengan 1 kg itu dikatakan paling tidak 40 – 50 ribu pohon. Saya katakan, ini sesudah pater pergi, saya mulai programkan untuk buat yang lahan 1 ha di belakang ini yang seperti dulu untuk paroki. Saya mulai dengan kegiatan di situ; kalau itu berjalan baik saya akan omong dengan P. Naryo untuk beli lahan itu untuk lahan SVD. Kita akan buat rumah. Bagaimana pun caranya, sehingga kita ada satu tempat untuk persiapan bibit ini untuk jangka panjang, bukan hanya untuk tahun-tahun ini saja…. Ada dua tempat. Satu di situ dan satu di daerah perbukitan. Paul:Berapa luas lahannya?
Ben: Oh di situ ‘ kan sampai ribuan hektar. Itu termasuk social forestry. Berarti di situ, paling tidak saya siapkan untuk pohon-pohonan jangka panjang. Tetapi juga untuk jangka menengah dan pendek. Jadi, kira-kira langkah untuk satu dua tahun ini, ini sudah ada riilnya dari Pemda seperti itu dan dari Pemda mengatakan bahwa ini jadi kebun contoh atau model.
Paul:Program social forestry ini telah dijadikan sebagai pilot project oleh Pemda. Bagaimana keberlanjutan program ini? Apakah pater sudah mempersiapkan dan mengkaderkan orang-orang untuk meneruskan program ini?
Ben: Untuk sekitar ini saya masih dengan om Mansu yang di sini yang ikut saya selama 13 tahun. Dia semua yang tanam ini. Jadi, dia mengalami hanya karena dengan mengikuti petunjuk-petunjuk yang saya berikan. Dia belajar dari situ. Dia sementara ini masih bersama. Sehingga kami dengan buka lahan seperti ini dia ikut jadi anggota. Tapi nanti dia jadi pendamping saya…. artinya untuk praktis. Tetapi nanti untuk pembekalan, saya katakan tadi, saya perlu satu wadah Social Forestry yang betul….ah matang. Jadi untuk itu, memang saya belum ada uang untuk gaji orang. Karena saya tidak berani untuk ambil orang yang ahli, yang professional, tetapi ambil orang yam mau belajar dari saya dan dari pembelajaran itu dia bisa ikut mendampingi.
Paul:Pater sudah mengkaderkan banyak awam menjadi tenaga pendamping. Sejauh mana keterlibatan konfrater SVD dalam gerakan yang pater tangani ini? Ke depannya bagaimana?
Ben: ke depan saya yakin bahwa kalau pater lihat sendiri dan dengar sendiri, kemudian bicarakan ke atas, ya mungkin dari distrik itu pasti akan mendukung. Karena selama ini, dua kali pertemuan itu betul… semua mengatakan: saya tidak mendukung… saya tidak mendukung. Saya tetap low profile. Saya tenang aja. Saya katakan, mendukung atau tidak mendukung saya tetap jalan. Karena ini komitmen pribadi saya. Sampai yang pertama kali itu, Bro. Markus karena sampai tegang dan tidak ada jalan keluar… saya diam. Lalu Bro. Markus bilang: “Eh…, kita ini kepala sakit percuma, itu Ben buat itu…. Kalau baik… kalau berhasil, itu nama SVD. Kalau tidak berhasil, itu urusan Ben kemudian. Karena kita tidak keluarkan uang satu sen pun. Kenapa kita mesti repot-repot.” Lalu tahap kedua dibicarakan sekali lagi, itu akhirnya kembali ke hal yang sama. Tidak bisa menemukan jalan keluar. Karena saya tetap diam juga. Lalu akhirnya, pater Stanis Ograbeck bilang: “Eh, buat apa kita repot-repot. Kita semua ini ‘ kan tidak tahu. Kedua, kalau berhasil toh, itu nama SVD. Kalau tidak berhasil, itu resiko Ben sendiri seperti apa yang dikatakan dulu oleh Bro. Markus. Jadi, kita tidak perlu repot.” Akhirnya sementara ini saya jalan, meski tidak ada dukungan dari distrik, saya tetap jalan.
Paul:Bagaimana tanggapan dari pihak keuskupan dan Pimpinan Provinsi tentang program yang pater jalankan ini?
Ben: Uskup memang sudah mengatakan, saya tidak mendukung Ben…. Karena saya ngomong-ngomong sebelum pamit, apa namanya tidak bekerja di paroki lagi, tetapi saya mengambil pendampingan kategorial lingkungan hidup. Itu sesuai dengan visi pastoral keuskupan kita. Dia mengatakan bahwa “ya saya tidak mendukung Ben karena saya tidak mempunyai tenaga dan saya tidak punya dana. Tetapi saya juga tidak melarang Ben. Karena apa. Ini sejalan dengan visi keuskupan. Jadi silahkan, kalau SVD mau, teruskan. Silahkan!” Lalu saya bicara dengan P. Provinsial, P. Martin… uskupnya tidak setuju ini… bagaimana? Saya bilang, ya dari kata-katanya menurut saya, dia masih ragu-ragu. Setuju tidak, menolak juga tidak; dengan kata-kata: saya tidak mendukung karena tidak punya tenaga dan tidak punya duit. Tetapi saya tidak perlu menolak karena itu sejalan dengan visi keuskupan. Sekarang terserah keapda SVD. Sekarang, saya hanya minta restu dari Pater. Kalau pater bisa, saya teruskan. Kalau pater katakan mati-matian tidak boleh, okey.
Dia bilang: “Tetapi pater, kita tidak punya dana.” Pater, saya datang bukan minta dana. “Lalu apa yang kamu butuh dari saya?” Ya… restu, berkat. Hanya itu saja yang saya minta. Lalu kamu bergerak dengan apa? Pater, uang itu saya tidak tahu dapat dari mana. Saya yakin, kalau ini jalan Tuhan, ada jalan juga untuk saya. Karena ini iman.
Paul:Setelah sekian tahun terlibat dalam pastoral umum di paroki dan pastoral khusus, social forestry, perubahan apa yang peter lihat pada umat atau masyarakat di wilayah ini?
Ben: Kalau dilihat dari perubahn mental, itu seperti yang suster (Elis) katakan sudah cukup jauh. Misalnya, dalam perubahan sikap. Pertama, untuk kita itu orang tidak perhatikan. Tetapi sekarang orang mulai perhatikan. Pastor itu siapa. Kalau orang sudah dengar pastor, “Oh ya!” Tetapi sebelumnya, saya pikul barang turne bawa sendiri. Tetapi sekarang orang mulai buka mata, mulai bantu. Meskipun bukan katolik. Jadi itu perubahan dari sikap. Untuk bagaimana melihat orang lain, menghargai orang lain, ya… menanggapi kehadiran orang lain. Itu memang suatu perkembangan yang baik. Karena awal kita datang orang tidak peduli. Yang kedua, kita lihat bahwa dalam perubahan dari mental hutan ke budidaya. Memang ada satu dua tempat yang sudah mulai berjalan. Baik di Telok…, juga di beberapa desa yang lain, misalnya di Telok Karangan. Itu konsentrasi saya dan kelompok tani yang dulu. Dan mereka cukup maju. Kemudian yang di Kulu Bilangan itu mereka sudah cukup maju dengan pendampingan-pendampingan itu. Sehingga artinya banyak yang sudah mereka sudah bisa memperoleh hasil dari itu. Dari hasil yang ada ini, kita lihat dari perkembangnan misalnya kolekte. Kolekte waktu datang itu ya paling-paling 5 – 10 ribu. Tetapi sekarang, bisa sampai 30 – 40 ribu. Itu suatu hal yang luar biasa. Itu berarti, orang sudah mulai ada penghasilan yang sedikit lebih baik. Misalnya yang di Telok ini karena mereka lihat yang di sini dan suster, lihat bagaimana suster dan pastor tanam sayur, mereka juga mulai ikut. Sehingga banyak yang tiap kali mesti jual sayur dan akhirnya dengan itu kehidupannya sudah mulai lebih berkembang. Jadi bahwa perubahan tadi dari mental alam yang masih 100%, sekarang mulai bergeser sedikit demi sedikit, sehingga budidaya mulai mucul. Tetapi ini masih proses cukup panjang. Memang bahwa itu sudah kelihatan punya arah yang cukup jelas.
Paul:Pater tinggal di tengah masyarakat dengan tantangan alam yang begitu besar. Apa yang membuat pater bisa bertahan tinggal di sini dan merasa gembira bekerja sebagai seorang misionaris di daerah yang sulit dan penuh tantangan seperti ini?
Ben:(sedikit termenung….dengan suara lirih) Kalau mencari sumber kekuatan spiritualitas, itu sebenarnya kita kembali kepada spiritualitas pendiri. Artinya iman yang begitu mendalam dan mendasar. Sehingga dalam pelayanan itu kita perlu kekuatan untuk berlangkah. Dan saya sendiri mengalami bagaimana ya….dengan Tuhan begitu dekatnya. Jadi artinya, kalau kita betul hidup dengan iman, kita berjalan dengan iman, yakin bahwa banyak kesulitan dapat teratasi dengan sendirinya. Jadi bahwa apa ya… kalau saya lihat di sini, begitu banyak kali saya diancam oleh maut. Baik di lapangan, misalnya di riam-riam. Ancaman maut pada tahap awal itu luar biasa. Kemudian tantangan maut kedua yaitu setiap kali saya mau membuka stasi-stasi baru di hulu, pasti saya sakit berat. Dan itu ancaman maut di mana saya merasa bahwa tidak hidup lagi… (mata berkaca-kaca sambil merengguk air ludah…hening beberapa detik….kata terbata-bata).
Jadi, saya melihat bahwa tantangan alamnya yang sudah sekian. Tetapi juga tantangan dari iblis dengan alamnya ini, karena masih alam asli ya. Maksud saya, di hulu untuk buka stasi-stasi baru. Di sini juga, dekat sungai Samba ini. Itu ke atas itu saya baru buka. Jadi setiap kali kalau saya buka di Hulu ini, itu langsung saya mesti dapat yang aneh-aneh itu: sakit dan mau mati – mau mati itu. Jadi, di sini sebenarnya kita melihat bahwa langkah-langkah seperti ini memang hanya orang-orang yang perintis yang bisa mengalami seperti itu. Karena yang kemudian itu semuanya enak. Pastor Raymundus (Ray Rede SVD) juga mengalami yang sama. Kalau bertemu, bisa tanya pengalaman yang sama. Kalau dia sakit, dia teriak macam-macam. Dalam hal ini, tantangan maut itu jelas sekali. Bukan hanya alamnya saja dengan medan riam-riamnya itu. Tetapi juga tantangan dari iblis dengan apa yang tidak mau kita masuk dengan mewartakan sabda Tuhan.
Paul:menghadapi tantangan seperti itu, kekuatan apa yang pater andalkan dalam bermisi di wilayah ini?
Ben: Sebenarnya saya hanya kembali kepada iman. …. Tuhan. Saya merasa bahwa saya bekerja ini bukan untuk diri saya. Saya hanya alat. Tuhan yang menggunakan saya. Untuk itu, kalau saya mendapat seperti itu, saya katakan: orang bukan lawan saya kok, lawan Dia yang di atas.
Paul:Apa relevansi pengalaman pater ini bagi pembangunan karakter seorang misionaris SVD? Apa yang pater mau katakan untuk para misoinaris muda dan calon misionaris muda kita yang ada di rumah-rumah pembentukan kita?
Ben: Artinya kalau saya itu…. iman ya. Iman itu harus mengawali jalan, begitu dekat dengan Tuhan, menyatu dengan Tuhan. Itu pertama. Kalau itu tidak ada, tidak bisa. Allah Tritunggal itu harus ada. Kemudian Bunda Maria. Artinya devosi-devosi kita yang hidup, betul menyatu sehingga kita merasa dikuatkan oleh itu. Spiritualitas SVD semua sebenarnya sudah di dalam itu. Kalau kita menghayati spiritualitas SVD dengan serius, itu menjadi pegangan hidup kita, kekuatan kita yang luar biasa. Kedua, komitmen pribadi. Sebab banyak orang yang jalan, keluar itu… itu justru sebenarnya banyak yang hanya mau adventure, cari senang-senang. Kalau mau cari senang-senang, saya bilang: jangan ke sini! Kalau di sini cari senang-senang dan adventure, saya juga semangat adventure tinggi. Saya mau mengalami…. jalani. Itu semangat adveturisme. Tetapi adveturisme di mana kita siap sedia mengahadapi tantangan apa saja. Sehingga komitmen kita itu mendukung untuk mencapai itu. Kalau komitmen pribadi kuat dan tinggi, saya yakin bahwa menjadi misionaris itu, artinya di mana saja ditempatkan tidak menjadi masalah.
Jadi, itu komitmen pada tugas yang diterima. Karena dengan terima tugas itu, kita tahu bahwa ini Tuhan tunjukan. Bahwa saya harus berada di situ untuk menyelamatkan banyak orang tapi juga menyelamatkan diri saya. Kalau orang dengan komitmen seperti itu, di mana saja dia rasa pas… Jadi, kalau orang datang dengan komitmen setengah-setengah dia akan stress…. Jelas stress dan dia tidak betah di tempat itu.
Paul:Yang terakhir pater, provinsi kita mempunyai program “Go for Borneo” untuk tahun ini. Bagaimana tanggapan atau pendapat pater tentang hal itu? Bagaimana prospeknya ke depan?
Ben: Ah pertama… saya tanggapi serius sekali. Saya merasa senang, bangga karena provinsi artinya memilih “go for Borneo” ini sesuatu hal yang luar biasa menurut saya. Karena apa? Karena selama ini kami merasa seperti kurang diperhatikan. Dan banyak orang juga mengeluh yang sama….. Karena kadang-kadang tidak datang mengunjungi kita sampai di lokasi. Sekarang ada program-program kunjungan sampai di lokasi dengan visitasi-visitasi. Itu berarti sudah sampai ke situ. Lalu, kalau sudah dengan “go for Borneo”, dengan perhatian seperti ini sudah muncul; kemudian didukung dengan doa-doa yang, artinya menurut saya betul menguatkan, ini suatu yang luar biasa. Karena seluruh SVD - provinsi kita itu mendoakan tentang misi Kalimatan. Ini suatu kekuatan yang mungkin belum dipikirkan ke arah itu. Karena kita biasa bedoa hanya untuk tempat kita sendiri-sendiri. Kalau kita misalnya bisa tetapkan tiap tahun untuk ini, lalu kemudian berdoa untuk ini. Sehingga akhirnya dengan itu kita mengumpulkan segala kekuatan kita itu secara spiritual ke arah yang sama. Ke satu titik. Itu saya rasa sesuatu indah sekali….
Paul: Pater Ben, terima kasih untuk waktu dan sharing misinya. ***
